Saturday, October 27, 2018

Latihan agar guru tidak terdorong emosi


Muncul lagi berita kekerasan guru terhadap siswa. Beberapa siswi ditampar, disuruh makan sepatu, kaos kaki dll.

Menyedihkan. Apapun alasannya, tetap salah.

Apakah tindakan itu terjadi karena sang guru tidak bisa mengajar? Tidak bisa menerapkan disiplin positif?

Saya tidak tahu masalahnya tapi yang jelas masalahnya tidak selalu di aspek pengetahuan dan keterampilan. Seseorang bisa saja tahu apa yang harus dilakukan. Dia juga bisa melakukannya. Namun, dalam praktik kontrol emosi adalah kunci. Buktinya, atlit yang terampil saja, kalau tersulut emosi, bisa berantakan permainannya.

Dan ini bisa menimpa siapa saja. Yang biasanya santun sekalipun.

Trainer IPC - Interpersonal Communication, termasuk saya, acapkali menyarankan bersikap asertif. Kalau ada siswa bandel, jangan marah. Beritahu saja kesalahannya di mana, perasaan Anda seperti apa, maunya Anda bagaimana dan konsekuensi bila terulang. Kalau bandel lagi, jangan marah, jalankan saja konsekuensi yang dijanjikan. Semisal, suruh pulang dan kembali dengan dampingan orang tua.

Tapi praktik tak semudah itu.

Kata orang-orang, namanya manusia ada batasnya, termasuk batas emosi. Kata para ahli, batas emosi kita naikan lagi. Kalau semula sumbu pendek, bisa dibuat lebih panjang. Dengan begitu, tidak mudah tersulut emosi.

Caranya bagaimana?

Ya, latihan.

Sama seperti olah raga angkat besi. Kekuatan mental juga harus dilatih. Kalau kita tak terbiasa angkat beban lalu tiba-tiba harus angkat 50kg, rontok otot kita. Demikian pula mental. Kalau tak terbiasa menahan emosi level 3, lalu siswa bandel minta ampun sampai lewat level 5, rontok akal sehat kita. Nafsu yang menyetir kata-kata, mata, tangan, tubuh dan semua gerak kita. Bubar.

Bagaimana latihannya?

Para ahli menyodorkan banyak model. Satu yang saya suka adalah yang suka saya plesetkan menjadi lu jual, gua kagak beli.

Semisal, saat  mengajar satu siswa bandel melempar bola kertas ke kawannya tapi mental mengenai Anda.

Pertama, saat dorongan marah itu muncul dan kepala kita penuh keinginan untuk menghukum, biarkan saja. Iya, biarkan saja. Sadari ada sesuatu dorongan, gejolak di kepala kita.  Ambil jeda sebentar.

Kedua, sejenak ingat nilai-nilai yang Anda pegang teguh. Pendidikan tanpa kekerasan. Karir mengajar yang utama. Tidak ingin membuat siswa lain terganggu atau apapun.

Ketiga, jangan kasih. Jangan ikuti dorongan marah. Lakukan yang lain. Lanjutkan mengajar. Jangan pedulikan.

Keempat, selang beberapa saat barulah Anda beri teguran atau hukuman pada siswa yang melempar bola kertas tadi. Di sini, Anda memberi teguran atau hukuman bukan karena dorongan nafsu. Anda tidak diatur oleh itu. Anda memberikan teguran atau hukuman atas pertimbangan aturan dan nilai yang Anda miliki.

Latihan berulang-ulang akan membuat batas emosi kita lebih panjang. Akhirnya, Anda sepenuhnya yang atur kelas, bukan emosi Anda.

Risang Rimbatmaja

No comments:

Post a Comment